Kontestasi menuju pemilihan presiden FIFA 2027 memasuki fase yang tidak biasa karena Gianni Infantino sudah menyatakan akan maju lagi, sementara hingga akhir September 2026 belum ada penantang resmi. Situasi ini membuat perdebatan lebih banyak berpusat pada tata kelola, legitimasi, dan kekuatan petahana.
Menurut laporan The Guardian yang menjadi bahan utama artikel ini, Gianni Infantino terus melakukan perjalanan dan pertemuan internasional setelah FIFA membatalkan rencana FIFA Forward Enterprise atau FFE. Aktivitas tersebut terjadi ketika sejumlah konfederasi besar mempertanyakan arah kepemimpinan dan proses pengambilan keputusan di tubuh FIFA.
Infantino diperkirakan menghadiri rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada pekan ini, dengan agenda pertemuan yang juga membuka ruang komunikasi dengan kepala negara. Dalam politik organisasi olahraga global, hubungan dengan pemerintah dan federasi nasional dapat memengaruhi dinamika dukungan menjelang kongres.
Sejak rencana FFE ditinggalkan, Infantino dilaporkan mengunjungi Doha, Rabat, Miami, Kolombia, Republik Dominika, Kyrgyzstan, dan sejumlah negara lain. Beberapa kunjungan berdekatan dengan persetujuan proyek pembangunan sepak bola bernilai jutaan dolar, meski FIFA menegaskan program pengembangan berjalan melalui aturan dan prosedur organisasi.
Perjalanan tersebut juga menimbulkan sorotan karena sebagian dilakukan menggunakan fasilitas penerbangan yang terkait dengan Qatar Airways, sponsor FIFA. Kritik kemudian muncul mengenai batas antara tugas resmi presiden FIFA dan aktivitas yang berpotensi memberi keuntungan politik bagi seorang petahana menjelang pemilihan.
Di sisi lain, struktur pemilihan FIFA memang memberi keuntungan institusional bagi pejabat yang sedang menjabat karena presiden memiliki akses luas terhadap federasi anggota, forum resmi, dan kegiatan pembangunan. Namun keuntungan petahana tidak otomatis berarti dukungan suara dapat dipastikan, terlebih pemungutan suara dilakukan secara rahasia.
Gianni Infantino, FFE, dan Krisis Kepercayaan FIFA
Guardian melaporkan puluhan dari sekitar 200 asosiasi anggota yang sebelumnya memberikan surat dukungan kepada Gianni Infantino menarik dukungan setelah rencana FFE terungkap pada Juli. Meski demikian, sumber yang dikutip media tersebut menilai sebagian besar federasi yang tidak banyak bersuara masih cenderung mempertahankan dukungan.
Ketidakpastian itu membuat peta pencalonan 2027 sulit dibaca hanya dari pernyataan terbuka federasi. Dalam pemungutan suara rahasia, komitmen politik selama kampanye tidak selalu identik dengan pilihan akhir, sehingga calon penantang harus memperhitungkan risiko sebelum meninggalkan jabatan yang sudah mereka pegang.
Nama Victor Montagliani, presiden Concacaf, kerap disebut sebagai salah satu figur yang memiliki jaringan cukup luas untuk menantang Gianni Infantino. Namun Montagliani juga menghadapi pemilihan ulang di konfederasinya pada Februari, sehingga mengikuti dua kontestasi besar secara berdekatan dinilai tidak realistis oleh sejumlah pihak.
Pilihan lain juga tidak sederhana karena Salman bin Ibrahim Al Khalifa pernah dikalahkan Infantino dalam pemilihan 2016, satu-satunya pemilihan yang benar-benar menghadirkan rival bagi Infantino. Dukungan kekuatan utama Asia seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab kepada Infantino mempersempit ruang manuver bagi Salman.
Nasser Al-Khelaifi juga dinilai sulit masuk bursa karena kedekatan Qatar dengan Gianni Infantino, sedangkan Aleksander Ceferin menghadapi agenda pemilihan di UEFA. Karena itu, tekanan politik terhadap presiden FIFA belum otomatis berubah menjadi kemunculan kandidat alternatif yang siap mengumpulkan dukungan global.
Secara historis, menantang presiden FIFA yang sedang menjabat memang sangat sulit karena presiden terakhir yang kalah dalam pemungutan suara adalah Sir Stanley Rous pada 1974. Fakta tersebut tidak menentukan hasil 2027, tetapi menunjukkan betapa kuatnya posisi struktural petahana dalam organisasi dengan 211 federasi anggota.
Persoalan lain muncul dari aturan masa jabatan karena Statuta FIFA membatasi presiden dan anggota Dewan maksimal tiga masa jabatan. FIFA Council pada Desember 2022 memutuskan periode Infantino pada 2016-2019 tidak dihitung sebagai satu masa jabatan karena ia menyelesaikan mandat yang ditinggalkan Sepp Blatter.
Interpretasi itu memungkinkan Gianni Infantino mencalonkan diri kembali untuk periode 2027-2031, meski kelompok FairSquare menantang dasar keputusan tersebut pada Agustus 2026. Perdebatan ini belum selesai karena kritik berfokus pada makna pembatasan kekuasaan, sedangkan FIFA tetap berpegang pada keputusan Dewan 2022.
Tekanan terhadap Infantino semakin kuat setelah FFE menjadi sorotan pada pertengahan 2026. Skema tersebut dirancang sebagai entitas komersial yang dapat menerima investasi swasta, dengan tujuan meningkatkan pendanaan sepak bola dan membuka peluang tambahan bagi federasi anggota melalui program pembangunan.
Menurut dokumen dan laporan yang dikutip Guardian, FFE dibahas dengan valuasi sekitar 20 miliar dolar AS, sementara Thrive Capital disebut akan mengeluarkan sekitar 4,2 miliar dolar AS untuk 21 persen kepemilikan. Rencana itu akhirnya dibatalkan setelah muncul penolakan luas dan ancaman boikot.
Perbandingan valuasi kemudian menjadi bahan perdebatan setelah Thrive terlibat dalam transaksi yang menilai Los Angeles Lakers sekitar 12,5 miliar dolar AS. Perbedaan konteks bisnis membuat dua aset itu tidak bisa dibandingkan secara langsung, tetapi tetap memicu pertanyaan tentang metode penilaian FFE.
Guardian juga melaporkan materi penjualan yang disiapkan JPMorgan tidak memuat rincian publik mengenai proses tender, hak suara, ataupun syarat keluar investor. Kekosongan informasi itulah yang memperbesar tuntutan transparansi, meski tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran atau penyimpangan.
Mengapa Rival Gianni Infantino Belum Muncul?
UEFA kemudian menempuh jalur hukum di Amerika Serikat untuk meminta pengungkapan dokumen terkait FFE melalui pengadilan di New York, Miami, dan Colorado. Dalam pengajuannya, UEFA menuduh adanya salah kelola, sementara FIFA membantah tuduhan itu dan menyebut proses tersebut sebagai kampanye pencemaran nama.
Proses discovery menjadi penting karena dapat membuka dokumen tentang valuasi, struktur investasi, proses pengambilan keputusan, dan kemungkinan konflik kepentingan. Namun jalur hukum ini diperkirakan memakan waktu panjang karena setiap keputusan dapat diajukan banding, sehingga hasil akhirnya mungkin melewati jadwal pemilihan.
Batas waktu pencalonan presiden disebut jatuh pada 18 November, sedangkan keputusan awal pengadilan diperkirakan baru muncul sebelum rangkaian banding berlangsung. Karena itu, proses hukum berpotensi memengaruhi suasana pemilihan tanpa harus menghasilkan temuan final sebelum kongres menentukan agenda dan jadwal pemungutan suara.
Seorang sumber hukum yang dikutip Guardian menyebut penilaian terlalu rendah dapat menjadi isu serius jika terbukti menyesatkan pemangku kepentingan. Namun laporan yang sama menegaskan belum ada bukti pelanggaran atau kriminalitas oleh pihak-pihak yang terlibat dalam rencana FFE yang akhirnya dibatalkan.
Thrive Capital sendiri menyatakan FFE adalah gagasan yang seharusnya diputuskan federasi anggota, bukan transaksi yang otomatis berlaku. Perusahaan itu juga mengakui tidak memperkirakan besarnya dinamika politik sepak bola global dan menyebut mereka mungkin tidak akan terlibat bila mengetahui konsekuensi tersebut.
Di tengah tekanan itu, Gianni Infantino pada 21 September mengusulkan kemungkinan tinjauan eksternal independen terhadap kerangka tata kelola FIFA untuk proyek strategis besar. Ia juga membuka konsultasi mengenai pembagian peran presiden, biro, Dewan FIFA, kongres, konfederasi, dan federasi anggota.
Dalam suratnya, Infantino menegaskan, “It remained a proposal, not a decision, and was always subject to the necessary approvals.” Pernyataan tersebut menjadi upaya menjelaskan bahwa FFE belum menjadi keputusan final ketika kontroversi mengenai rencana investasi tersebut berkembang.
Langkah tersebut penting karena menggeser perdebatan dari sekadar nasib FFE menuju pertanyaan lebih mendasar tentang siapa yang berwenang mengambil keputusan strategis. FIFA menyatakan perubahan statuta tetap harus melalui persetujuan kongres, sehingga setiap reformasi formal membutuhkan dukungan federasi anggota.
Infantino juga menegaskan posisi federasi terhadap usulan tata kelola tidak akan memengaruhi akses mereka terhadap program pembangunan dan solidaritas FIFA. Pernyataan ini relevan karena kritik sebelumnya menyoroti kedekatan antara perjalanan presiden, persetujuan proyek, dan upaya mempertahankan dukungan menjelang pemilihan.
Uang, Kekuasaan, dan Arah FIFA Setelah 2027
FIFA memiliki kapasitas finansial besar yang membuat isu pembagian dana menjadi bagian penting dalam perselisihan ini. Laporan keuangan resmi FIFA menunjukkan pendapatan dan pemasukan lain pada 2025 mencapai sekitar 2,66 miliar dolar AS, dengan belanja besar untuk kompetisi dan program pembangunan.
Guardian menyebut pendapatan FIFA untuk siklus empat tahun menuju 2026 mencapai sekitar 15 miliar dolar AS dan diproyeksikan tumbuh menjadi 18 miliar dolar AS pada siklus berikutnya. Besarnya arus uang menjelaskan mengapa mekanisme penggunaan cadangan, investasi, dan pendanaan federasi menjadi isu tata kelola utama.
UEFA dan Concacaf kemudian meminta FIFA menggunakan cadangan sekitar 6 miliar dolar AS untuk memberikan tambahan sedikitnya 10 juta dolar AS kepada masing-masing 211 asosiasi anggota. Usulan tersebut muncul setelah FFE sebelumnya menjanjikan peluang pendanaan tambahan hingga 20 juta dolar AS bagi federasi.
Permintaan itu juga menunjukkan bahwa perdebatan bukan sekadar siapa yang memimpin FIFA, melainkan model pembiayaan yang seharusnya digunakan organisasi nirlaba tersebut. Pihak yang menolak FFE mendorong pemanfaatan cadangan internal, sedangkan FIFA sebelumnya menilai investasi eksternal dapat mempercepat pembangunan.
Hubungan FIFA dengan UEFA dan Concacaf tetap tegang meski terdapat beberapa tanda kompromi, termasuk keputusan UEFA menarik ancaman boikot terhadap Piala Dunia U-20 Putri. Pada saat sama, persetujuan Infantino untuk membuka pembahasan tinjauan tata kelola belum bisa dibaca sebagai penyelesaian konflik.
Pertemuan Ceferin dan Montagliani di agenda European Football Clubs di Kopenhagen juga menjadi salah satu titik penting yang dipantau menjelang tenggat pencalonan. Namun sampai sekarang, belum ada kandidat yang secara terbuka menyatakan akan menantang Gianni Infantino pada pemilihan presiden FIFA 2027.
Situasi ini mengingatkan sebagian pengkritik pada 2015 ketika Sepp Blatter memenangi masa jabatan kelima sebelum kemudian mengundurkan diri di tengah penyelidikan korupsi FIFA oleh otoritas Amerika Serikat. Perbandingan historis itu tidak membuktikan pola serupa akan terulang, tetapi menunjukkan pemilihan bukan satu-satunya faktor.
Karena itu, masa depan Gianni Infantino tidak hanya ditentukan oleh keberadaan atau ketiadaan rival dalam surat suara. Proses pengadilan, hasil tinjauan tata kelola, dukungan federasi anggota, interpretasi batas masa jabatan, dan keputusan kongres akan sama-sama menentukan arah FIFA setelah 2027.
Kesimpulannya, posisi Infantino masih kuat secara institusional karena ia telah menyatakan pencalonan dan belum menghadapi rival resmi. Namun kontroversi FFE, perdebatan masa jabatan, tuntutan transparansi, serta tekanan UEFA dan Concacaf membuat proses menuju pemilihan 2027 jauh lebih kompleks dibanding sekadar menghitung dukungan terbuka.


